Sepiring penne carbonara menemani perbincangan hangat diruang makan popo danes architect t. Sesekali melihat ke halaman tengah, khawatir kalau saja akan turun hujan. Ya…hari itu saya mendapat sebuah kesempatan yang sangat berharga, untuk berbagi pnegalaman di di acara bulanan di danes veranda yaitu architecture underbig3 architectsunderbig3.….. sebuah kehormatan besar mengingat belumlah menjadi arsitek yang bisa diperkitungkan ( saya masih dan terus berusahan mencapainya) , dan ini adalah Bali pulau dimana banyak sekali calon arsitek sanpai arsitek tersohor berkarya …….
Saturday, July 2, 2011
Monday, April 4, 2011
Mungkin saya ada disisi Bali yang lain ( bisa saja kan?)
Pada saat pertama menyadari mendapat kesempatan untuk merasakan berkarya di Bali, pikiran saya langsung melayang memikirkan atmosfer Bali yang pastinya ( menurut saya waktu itu) inspiratif untuk berkarya. Walaupun masih berada di Jogja, tapi saya sudah membayangkan apa saja yang akan saya lakukan di Bali.
Dan inilah saya di Bali sekarang, menatap Bali yang sepertinya mulai tidak seperti Bali di angan saya selama ini. Bali yang saya kenal dulu sepertinya tidak seperti ini. Bali yang awalnya saya pikir adalah tempat yang sangat tenang untuk berimajinasi dan bergeliat dengan gagasan, kini berubah mejadi medan tempur antara ide-ide dan transaksi jual beli. Awalnya saya berharap saya akan dapat menjadi media pewujud mimpi di Bali, dan ternyata kini saya malah merasa menjadi penyedia suplier hunian beton untuk pemegang modal. Apa mungkin saya terdampar di Bali yang lain….? Bisa jadi.
Wajah Bali pun sepertinya banyak berubah ya? Apa saya yang salah mengenali Bali? Kadang saya tak merasa berada di Bali kalau saja saya tidak melihat sesajen di pinggir jalan atau padmasana di tiap sudut bangunan. Bali sudah bergerak cepat ( sepertinya ). Tapi yang masih terlintas di kepala saya adalah, kemana Bali bergerak? Siapa yang memegang kendali dari laju Bali?
Seringkali saya mendapatkan arsitek di Bali diceramahi oleh petugas pemerintah mengenai arsitektur dan ornamen bali yang semestinya terdapat di karya mereka agar dapat mengajukan IMB. Namun yang disayangkan, arsitektur Bali yang diminta dinas Pemerintahan tersebut itu hanya sekedar aksesoris, tak beda dengan pakaian adat yang hanya dipakai dalam karnaval setiap tanggal 17 agustus. Apakah Bali akan dibawa ke arah dimana detail arsitektunya menjadi sekedar kosmetik, yang bisa saja hanya sekadar syarat agar IMB bisa didapat? Entah kemana arsitektur Bali akan terus bergerak.
Mungkin saya masih awam dengan Bali, mungkin saya masih jet-lag di Bali. Mungkin saya berada di sisi Bali yang lain….
rizekiraharja
(esai untuk mengikuti workshop 'Dimanakah Batas Bali?' architect under big 3 bersama Adi Purnomo)
Saturday, September 26, 2009
Things I have learned in my life so far…( Stefan Sagmeister )
Sebuah buku kumpulan karya dari seroang rockstar graphic designer, Stefan Sagmesiter. Judul buku tersebut terus menginspirasi saya, karena seringkali muncul pertanyaan”apa saja sih yang sudah saya pelajari selama ini?’’…..
Judul buku mister Stefan ini seolah menjadi rangkaian kata yang tepat untuk menggambarkan keinginan saya untuk berbagi dan terus belajar. Jadi izinkanlah saya menggunakan judul tersebut (sampai suatu saat nanti saya menemukan inspirasi yang benar2 muncul dari saya sendiri) sebagai tema saya ngeblog untuk berbagi.
Sampai kapanpun saya masih akan terus beajar dan sampai kapanpun jugalah saya akan terus berbagi. selalu teringat pesan salah satu dosen arsitektur saya pada masa kuliah dulu “ berbahagialah kalian para arsitek, karea tiap langkah kalian adalah belajr…”
Belajar dan berbagi, bagi saya adalah hal yang tak dapat dipisah.
is a piece of collecting process during my learning and journey, in visual design especially
architecture
rizekiraharja
Subscribe to:
Posts (Atom)
